Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN DAN PELATIHAN. Tampilkan semua postingan

MENGENAL SULTAN HASANUDDIN | FKPA MAROS

Biografi Sultan Hasanuddin. Nama Sultan Hasanuddin dikenal sebagai nama pahlawan Indonesia yang berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan. Beliau dikenal sebagai penguasa kerajaan islam Gowa yang ketika itu menguasai jalur perdagangan perdagangan wilayah timur Indonesia. Sultan Hasanuddin bahkan membawa kerajaan Islam Gowa mencapai  puncak kejayaannya pada abad ke 16 sebagai salah satu kerajaan terbesar di bagian timur ketika itu.


BIOGRAFI SULTAN HASANUDDIN

Beliau lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631 dan meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juni 1670 pada umur 39 tahun, adalah Raja Gowa ke-16 dan pahlawan nasional Indonesia yang terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe.

Setelah memeluk agama Islam, ia mendapat tambahan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, hanya saja lebih dikenal dengan Sultan Hasanuddin saja. Oleh Belanda ia di juluki sebagai Ayam Jantan Dari Timur atau dalam bahasa Belanda disebut de Haav van de Oesten karena keberaniannya melawan penjajah Belanda. Beliau diangkat menjadi Sultan ke 6 Kerajaan Gowa dalam usia 24 tahun (tahun 1655). Menggantikan ayahnya Sultan Malikussaid yang wafat.

Selain bimbingan dari ayahnya, Sultan Hasanuddin mendapat bimbingan mengenai pemerintahan melalui Karaeng Pattingaloang, seorang Mangkubumi kerajaan Gowa. Beliau juga merupakan guru dari Arung Palakka, yang merupakan raja Bone.

PERJUANGAN SULTAN HASANUDDIN

Dibawah kepemimpinan Sultan Hasanuddin, kerajaan Gowa mencapai puncak kejayaannya. Beliau merupakan putera kedua dari Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke-15. Sultan Hasanuddin memerintah Kerajaan Gowa, ketika Belanda yang diwakili VOC sedang berusaha menguasai perdagangan rempah-rempah.

VOC Belanda sedang berusahan melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah melihat Sultan Hasanuddin dan kerajaan Gowa sebagai penghalang mereka. Orang Makassar dapat dengan leluasa ke Maluku untuk membeli rempah-rempah. Hal inilah yang menyebabkan Belanda tidak suka.

Reruntuhan Benteng Somba Opu
Sejak pemerintahan Sultan Alauddin hingga Sultan Hasanuddin, Kerajaaan Gowa tetap berpendirian sama, menolak keras monopoli perdagangan yang dilakukan oleh VOC Belanda. Saat itu Gowa merupakan kerajaan besar di wilayah timur Indonesia yang menguasai jalur perdagangan.

Pada tahun 1666, di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman, Kompeni berusaha menundukkan kerajaan-kerajaan kecil, tetapi belum berhasil menundukkan Gowa yang dikenal memiliki armada laut yang tangguh. dan juga pertahanan yang kuat melalui benteng Somba Opu.

Tak ada cara lain yang dapat ditempuh oleh Belanda selain menghancurkan kerajaan Gowa yang dianggap mengganggu mereka. Di lain pihak, setelah Sultan Hasanuddin naik takhta, ia berusaha menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia bagian timur untuk melawan Kompeni Belanda. Peperangan antara VOC dan Kerajaan Gowa (Sultan Hasanuddin) dimulai pada tahun 1660.

Sejarah Sultan Hasanuddin dan Arung Palakka Saat itu Belanda dibantu oleh Kerajaan Bone dibawah pimpinan Arung Palakka yang merupakan kerajaan taklukan dari Kerajaan Gowa. Namun armada kerajaan Gowa yang masih sangat kuat membuat Kerajaan Gowa tidak dapat ditaklukkan.

Pada peperangan tersebut, Panglima Bone, Tobala akhirnya tewas tetapi Arung Palakka berhasil meloloskan diri bahkan kerajaan Gowa mencarinya hingga ke Buton. Perang tersebut berakhir dengan perdamaian. Berbagai peperangan kemudian perdamaian dilakukan.

Akan tetapi, perjanjian damai tersebut tidak berlangsung lama karena Sultan Hasanuddin yang merasa dirugikan kemudian menyerang dan merompak dua kapal Belanda , yaitu de Walvis dan Leeuwin. Belanda pun marah besar.

Arung Palakka yang dari tahun 1663 berlayar dan menetap di Batavia menghindari kejaran kerajaan Gowa kemudian membantu VOC dalam mengalahkan kerajaaan Gowa yang ketika itu dipimpin oleh Sang Ayam Jantan dari Timur, Sultan Hasanuddin.

VOC Belanda mengirimkan armada perangnya yang besar yang dipimpin oleh Cornelis Speelman. Ia dibantu  oleh Kapiten Jonker dan pasukan bersenjatanya dari Maluku serta Arung Palakka, penguasa Kerajaan Bone yang ketika itu mengirimkan 400 orang sehingga total pasukan berjumlah 1000 orang yang diangkut 21 kapal perang bertolak dari Batavia menuju kerajaan Gowa pada bulan November 1966.

Perang besar kemudian terjadi antara Kerajaan Gowa melawan Belanda yang dibantu oleh Arung Palakka dari Bone. Sultan Hasanuddin akhirnya terdesak dan akhirnya sepakat untuk menandatangani perjanjian paling terkenal yaitu Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667.

Pada tanggal 12 April 1668, Sultan Hasanuddin kembali melakukan serangan terhadap Belanda. Namun karena Belanda sudah kuat maka Benteng Sombaopu yang merupakan pertahanan terakhir Kerajaan Gowa berhasil dikuasai Belanda. Yang akhirnya membuat Sultan Hasanuddin mengakui kekuasaan Belanda.

SULTAN HASANUDDIN WAFAT

Walaupun begitu, Hingga akhir hidupnya, Sultan Hasanuddin tetap tidak mau bekerjasama dengan Belanda. Sultan Hasanuddin kemudian mengundurkan diri dari takhta kerajaan Gowa dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670. Dan dimakamkan di kompleks pemakaman raja-raja Gowa di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

I Bate Daeng Tommi, I Mami Daeng Sangnging, I Daeng Talele dan I Hatijah I Lo'mo Tobo merupakan nama-nama dari Istri Sultan Hasanuddin. Ketika beliau wafat, beliau digantikan oleh I Mappasomba Daeng Nguraga atau dikenal dengan Sultan Amir Hamzah yang merupakan anak dari Sultan Hasanuddin, selain anak bernama Sultan Muhammad Ali dan karaeng Galesong.

Perjuangan melawan Belanda selanjutnya dilaukan oleh Karaeng Galesong yang berlayar hingga ke Jawa membantu perlawanan dari Trunojoyo dan Sultan Ageng Tirtayasa di Banten melawan Belanda.

Untuk Menghormati jasa-jasanya, Pemerintah Indonesia kemudian menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Hasanuddin dengan SK Presiden Ri No 087/TK/1973. Nama Sultan Hasanuddin juga diabadikan sebagai nama Bandar Udara di Makassar yakni Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, selain itu namanya juga dipakai sebagai nama Universitas Negeri di Makassar yakni Universitas Hasanuddin dan menjadi nama jalan di berbagai daerah.  
Sumber : biografiku.com

TUDANG SIPULUNG ( Tradisi Budaya Musyawarah Masyarakat Bugis) | FKPA MAROS


Oleh : Andi Faisal

Ruang publik secara umum adalah sebuah area yang dalam kehidupan keseharian, orang orang berkecimpung di dalamnya, yang tidak hanya mencakup tempat beraktifitas secara publik, seperti di kantor, di mall, atau di sebuah warung kopi (kongkrit), tetapi juga menyangkut ruang berkembangnya ide, pikiran, gagasan, ataupun artikulasi berbagai kepentingan (abstrak).

Dalam konteks politik, menurut Habermas, ruang publik merupakan ruang (kondisi kondisi) yang memungkinkan para warga negara (private sphere) datang bersama sama mengartikulasikan kepentingan kepentingannya untuk membentuk opini dan kehendak bersama secara diskursif (Habermas, 1993: 27, 176). Kondisi kondisi yang dimaksudkan Habermas adalah pertama, semua warga negara yang mampu berkomunikasi, memiliki hak yang sama dalam berpartisipasi di ruang publik. Kedua, semua partisipan memiliki peluang yang sama untuk mencapai konsensus yang fair dan memperlakukan rekan komunikasinya sebagai pribadi pribadi yang otonom dan bertanggung jawab, dan bukan sebagai alat yang dipakai untuk kepentingan tertentu. Ketiga, ada aturan bersama yang melindungi proses komunikasi dari tekanan dan diskriminasi, sehingga argumen yang lebih baik menjadi dasar proses diskusi[1]. Dengan kata lain, dalam ruang publik, kondisi kondisi (nilai nilai) yang tercipta adalah kondisi yang inklusif, egaliter, dan bebas tekanan (Hardiman, 1994: 44).

Dalam konteks bernegara, ruang publik merupakan ruang yang menjembatani antara kepentingan publik dan negara, yang mana publik mengorganisasi dirinya sebagai sebagai pemilik opini publik berdasarkan prinsip demokrasi. Ruang publik sejatinya berasal dari kepentingan publik, oleh kepentingan publik, dan untuk kepentingan publik itu sendiri, tanpa campur tangan dari pihak pihak tertentu, seperti pribadi atau kelompok, maupun dari pihak pemerintah. Ruang publik adalah ruang demokrasi bagi publik untuk menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah sebagai penanggung jawab penyelenggaraan pemerintahan (kekuasaan). Esensi ruang publik adalah nilai nilai demokrasi yang mementingkan kepentingan bersama (publik). Nilai demokrasi maksimal inilah yang menjadi inti suatu ruang publik politis.

Di Sulawesi Selatan, meskipun saat ini sistem ketatapemerintahan dan ketatawarganegaraan tidak lagi berjalan secara tradisional, melainkan melalui sistem demokrasi dan pemerintahan modern, namun sumber dan jejak nilai nilai demokrasi sebagaimana yang dipahami dan dianut dalam konteks demokrasi modern, masih dapat ditemukan dalam berbagai catatan sejarah tradisional masyarakat Bugis Makassar. Dalam tradisi budaya politik lokal Bugis Makassar dikenal istilah tudang sipulung yang secara harfiah berarti “duduk bersama”, namun secara konseptual merupakan ruang kultural yang demokratis bagi publik (rakyat) untuk menyuarakan kepentingan kepentingannya dalam rangka mencari solusi atas permasalahan permasalahan yang mereka hadapi.

Tudang sipulung ini menjadi ruang demokrasi bagi publik untuk memperoleh kata mufakat atas pertikaian atau permasalahan yang sedang dihadapi. Jika melihat esensi tudang sipulung, maka ruang kultural tudang sipulung inilah yang dianggap oleh Habermas sebagai representasi ruang publik politis (political public sphere) pada awal abad ke 18 di Eropa, yang dapat memediasi antara kepentingan publik dengan pemerintah (penguasa), sebenarnya telah ada sejak berlangsungnya masa-masa kerajaan di Sulawesi Selatan.

Tradisi Tudang Sipulung

Tudang Sipulung dalam bahasa Bugis Makassar, secara harfiah dapat diartikan “duduk bersama”, yaitu “tudang” (duduk) dan “sipulung” (berkumpul atau bersama sama), namun jika dihubungkan dengan persoalan hubungan ketatapemerintahan atau ketatakewarganegara an, maka secara kultural politis hal tersebut berhubungan masalah ruang publik atau ruang bagi publik (rakyat) untuk menyuarakan kepentingan kepentingannya dalam rangka mencari solusi atas permasalahan permasalahan yang mereka hadapi. Artinya bahwa tudang sipulung ini merupakan ruang yang dapat memediasi antara kepentingan publik dengan pemerintah (penguasa) karena berlangsung berdasarkan prinsip prinsip demokratis.

Pemahaman mengenai konsepsi ruang publik Bugis Makassar, tidak dapat dilepaskan sepenuhnya dari konteks nilai nilai tradisional yang masih dianut dan diakui oleh sebagian besar masyarakat Sulawesi Selatan sampai sekarang. Nilai nilai adat yang menjadi landasan hukum dan filosofis kehidupan tersebut adalah Ade’ (adat). Ade’, bagi sebagian besar masyarakat Sulawesi Selatan, merupakan kepribadian kebudayaan (Rahim, 1985: 122), karena adatlah yang menjadi penggerak kehidupan suatu masyarakat. Hal senada disampaikan pula oleh Mattulada, bahwa adat itu itulah yang memberikan bentuknya dalam wujud watak masyarakat dan kebudayaan serta orang orang yang menjadi pendukungnya (Mattulada, 1974: 315).

Referensi tentang sistem nilai nilai masyarakat (adat istiadat) Bugis Makassar, dapat ditemukan dalam naskah naskah klasik Lontara’ Bugis Makassar. Mattulada misalnya, yang mengkaji dan mengangkat Lontara’ La Toa (Nenek Moyang) sebagai disertasinya, menjelaskan bahwa keseluruhan sistem norma dan aturan adat Bugis Makassar tersebut disebut Panngadereng (sistem adat istiadat/adat normatif).

Panngadereng ini dapat diartikan sebagai keseluruhan norma yang meliputi bagaimana seseorang harus bertingkah laku terhadap sesamanya dan terhadap pranata sosialnya secara timbal balik, dan yang menyebabkan adanya gerak (dinamis) masyarakat[2]. Dengan kata lain, dalam konteks budaya politik, lontara’ La Toa menjelaskan bagaimana orang seharusnya bertingkah laku, bagaimana seorang penguasa memperlakukan rakyatnya, dan sebaliknya, serta bagaimana rakyat memperlakukan sesamanya, berdasarkan prinsip-prinsip sistem adat istiadat atau sistem normatif Panngadereng (Abdullah, 1985: 17-18).

Sistem Panngadereng ini terdiri atas lima unsur pokok yang terjalin satu sama lain sebagai satu kesatuan organis dalam alam pikiran masyarakat Bugis Makassar, yang memberi dasar sentimen kewargamasyarakatan dan rasa harga diri[3]. Nilai sistem Panngadereng ini semua dilandasi nilai Siri’ (Hamid, 2005)[4]. Kelima unsur pokok sistem adat istiadat tersebut adalah Ade, Bicara, Rapang, Wari’ dan Sara’. Kelima unsur pokok di atas terjalin satu sama lain dan menjadi landasan hidup dan kehidupan masyarakat baik antar sesama maupun terhadap pranata sosialnya secara timbal balik, termasuk juga menyangkut persoalan budaya politik dan ruang publik masyarakat Bugis Makassar.

Kelima unsur unsur adat normatif Bugis Makassar yang dimaksud adalah Ade’ Bicara, Rapang, Wari’ dan Sara’, merupakan unsur yang saling mengisi satu sama lain dalam menjalankan peran dan fungsinya di masyarakat. Jika Ade’ (adat) berfungsi preventif dalam pergaulan hidup untuk menjaga kelangsungan masyarakat dan kebudayaan, Bicara (pertimbangan atau penafsiran ilmu hukum) berfungsi represif untuk mengembalikan sesuatu pada tempatnya, Rapang (hukum perdata) berfungsi untuk stabilisator untuk kesinambungan pola peradaban, maka Wari memberikan peranannya dalam mappallaiseng yaitu mengatur kompetisi masing-masing, sehingga tak terjadi saling bentrokan. Wari (hukum pewarisan) memberikan ukuran keserasian dalam perjalanan hidup kemasyarakatan.

Dengan kata lain, Ade’ memberikan tuntunan hidup, Bicara memulihkan ketidakwajaran kepada kewajaran, Rapang mempertahankan pola untuk kelanjutannya, dan Wari memberikan keseimbangan antara oposisi oposisi yang terjadi dalam masyarakat. Sedangkan Sara’ yang berasal dari hukum-hukum agama Islam, menjadi pelengkap dari ke 4 hukum adat Bugis Makassar di atas. Menurut Latoa (dalam Mattulada, 1985: 382) bahwa sebelum Islam, ada empat unsur Pangngadereng (sistem adat normatif) yang berlaku di masyarakat, dan setelah masuknya Islam di Sulawesi Selatan, Sara’ menjadi unsur penggenap kelima Panngadereng sehingga menjadi Ade, Bicara, Rapang, Wari, dan Sara’.

Dengan datangnya Islam dan diterimanya Sara’ ke dalam Panngadereng, maka pranata pranata kehidupan sosial budaya yang tumbuh dari aspek aspek Panngadereng, memperoleh pengisian dengan warna yang lebih tegas, bahwa Sara’ menjadi padu sebagai aspek Panngadereng. Hal ini menunjukkan bahwa penerimaan Sara’ sebagai bagian dari Panngadereng dianggap tidak mengubah nilai nilai, kaidah kaidah kemasyarakatan, dan kebudayaan yang telah ada. Apa yang dibawa Islam pada awal kedatangannya hanyalah menyangkut persoalan persoalan ibadah yang tidak mengubah pranata pranata kehidupan sosial budaya masyarakat, sehingga terjadi kesesuaian antara nilai nilai Panngadereng sebelum Islam, dengan nilai-nilai Islam tersebut, sebab nilai nilai yang dikandung Panngadereng seperti diantaranya nilai-nilai kejujuran, kebenaran, keikhlasan, dan keadilan, yang bermuara pada prinsip Siri’ (harga diri/rasa malu), dianggap sesuai dengan nilai nilai yang dibawa Islam, sehingga bagi masyarakat Bugis Makassar, Islam itu identik dengan kebudayaan Bugis Makassar.

Menurut Zainal Abidin dalam Lontara’ Wajo, disebutkan sifat sifat yang terkandung dalam setiap adat, yaitu “bicara yang jujur, prilaku yang benar, tindakan yang sah, perbuatan yang patut, pabbatang yang tangguh, kebajikan yang meluas. Pabbatang itu, merupakan sandaran bagi orang lemah yang jujur, namun juga menjadi halangan bagi orang kuat yang curang, ia juga menjadi pagar bagi negeri terhadap orang yang berbuat sewenang wenang”.

Sifat sifat jujur, benar, sah, patut, tangguh, dan baik, adalah nilai nilai yang tampil dalam pengertian di atas. Nilai nilai ini kemudian akan nyata peranan dan realisasinya dalam setiap pelaksanaan setiap adat dan menjadi “roh” yang menghidupi persoalan budaya politik Bugis Makassar, termasuk persoalan ruang publik.

Seorang pallontara’ (penafsir lontara’), Andi Baharuddin menjelaskan dengan bahasa Bugis[7] bahwa:
“naiya riasenge tudang sipulung, iyanaritu mallari ade-e napogau toriolota’. Tudang maddepu deppungeng, tudang mallewo lewoang nasibawai akkatta maelo sipatanggareng nenniya maelo mala ada assimaturuseng”.

“yang dimaksud dengan tudang sipulung yaitu tradisi yang sering dilakukan orang dahulu (tetua kita). Duduk bersama-sama, berkumpul dengan tujuan hendak bermusyawarah untuk mufakat”.
Pemaparan tersebut mengindikasikan, bahwa tradisi tudang sipulung telah dilakukan sejak lama oleh masyarakat Bugis Makassar sebagai ruang bersama untuk bermusyawarah dan bermufakat dalam rangka mencari solusi atas persoalan yang tengah dihadapi masyarakat.

Pelaksanaan suatu tudang sipulung dapat bersifat resmi maupun tidak resmi. Mulai dari tingkat paling kecil, dalam keluarga, antar keluarga, dalam kampung/negeri (wanua), antar kampung/negeri, dalam kerajaan, hingga antar kerajaan. Tudang Sipulung yang sifatnya tidak resmi biasanya dilakukan dalam lingkungan keluarga atau antar keluarga, yang membicarakan persoalan persoalan keluarga seperti perkawinan, lamaran, dsb. Sedangkan hal yang menyangkut persoalan bermasyarakat atau keputusan keputusan penting dalam suatu kampung antar kampung, atau kerajaan, biasanya dilaksanakan secara resmi yang dipimpin oleh seorang Matoa (yang dituakan menurut adat) sebagai pemimpin (raja) suatu kampung/negeri (wanua).

Tudang Sipulung yang dilaksanakan dalam suatu kampung disebut tudang wanua (duduk bersama dalam suatu kampung) yang dihadiri oleh seluruh masyarakat dan para penghulu-penghulu adat (pakketenni ade’). Ruang publik tradisional Bugis Makassar tudang sipulung atau tudang wanua ini berlangsung secara demokratis. Pimpinan tudang sipulung, yakni arung Matoa (ketua adat) berkewajiban meminta pendapat kepada peserta tudang sipulung. Peserta yang dimintai pendapat, berkewajiban mengemukakan pendapatnya walaupun pendapatnya tersebut sama dengan peserta lain atau telah dikemukakan terlebih dahulu oleh peserta sebelumnya. Apabila seorang peserta tidak setuju atas suatu hal, maka ia harus mengungkapkan secara langsung dalam musyawarah tersebut, ketidaksetujuannya dengan mengemukakan alasan yang dapat diterima (rasional).

Keputusan yang diambil dalam tudang sipulung tersebut, harus bertumpu dan berdasarkan pada prinsip massolong pawo, mangelle pasang, yang dapat diartikan sebagai apa yang terbaik bagi rakyat seharusnya berdasarkan kehendak rakyat itu sendiri, sehingga proses penyampaiannya pun harus berasal dari rakyat, dan kemudian hasilnya juga untuk kepentingan rakyat semata. Tugas pemimpin atau raja hanyalah menerjemahkan dan melaksanakan keputusan rakyat, yang hasilnya kemudian diperuntukkan bagi kepentingan rakyat, yang artinya bahwa keputusan yang akan dicapai dalam “duduk bersama” (tudang sipulung) tersebut merupakan keputusan atas kehendak bersama dan untuk kepentingan bersama, yang diibaratkan seperti air pasang yang mengalir dari bawah (rakyat) ke atas (penguasa) (mangelle pasang) dan kemudian mengalir kembali ketempat dimana air pasang itu berasal (massolong pawo) (Nurba, 2000: 9-10). Jadi, pengertian tentang pemerintahan “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat” sebagaimana yang dipahami secara umum dewasa ini (modern), sebenarnya sudah tertuang dalam prinsip mangngelle pasang dan massolong pawo tersebut.

Tudang sipulung merupakan ruang publik tradisional bagi masyarakat Bugis Makassar untuk menyampaikan aspirasinya terhadap persoalan-persoalan penyelengaraan pemerintahan, dan mencari kesepakatan (kehendak bersama) terhadap permasalahan yang sedang dihadapi. Masyarakat datang berkumpul bersama mendiskusikan dan memperdebatkan secara rasional suatu permasalahan guna mendapatkan win-win solution, dengan tetap menghormati dan menjunjung tinggi nilai-nilai pangngadereng (sistem adat).

Jadi, konsepsi ruang publik politis sebagai perwujudan prinsip-prinsip demokrasi, sebenarnya telah ada dan telah dilaksanakan sejak berlangsungnya masa-masa kerajaan di Sulawesi Selatan sejak abad ke-14, yang menjadi sarana bermusyawarah bagi masyarakat untuk memperoleh kata mufakat atas pertikaian atau permasalahan yang tengah dihadapi, hanya konteks dan perwujudannya (pelaksanaannya) saja yang berbeda dengan konsep demokrasi ideal yang dikenal saat ini karena konsep demokrasi ala Bugis Makassar ini berlangsung pada masa berlangsungnya kerajaan-kerajaan di wilayah Bugis Makassar.
Dalam lontara’ dijelaskan bahwa ketika kerajaan-kerajan mulai bermunculan di Sulawesi Selatan pada sekitar abad ke-14, To Manurung mengadakan tudang sipulung dengan para pemimpin kaum untuk membuat perjanjian mengenai dasar-dasar penyelenggaraan keseluruhan aktivitas politik pemerintahan dan kenegaraan Bugis Makassar. Di dalam perjanjian tersebut dimufakati batas-batas hak, wewenang, tanggung jawab, dan kewajiban raja dan rakyat. Penetapan status, fungsi, dan peran masing-masing. Hal ini dengan jelas menunjukkan sistem budaya politik yang dianut dengan memilih dan menetapkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi (Anwar Ibrahim, 2003: 167). Secara konstitusional hal itu ditegaskan dengan ungkapan:

“rusa’ taro-arung, tenrusa’ taro ade’
rusa’ taro ade’, tenrusa’ taro anang,
rusa’ taro anang, tenrusa taro to-maega”
(batal ketetapan raja, tak batal ketetapan adat
batal ketetapan adat, tak batal ketetapan kaum,
batal ketetapan kaum, tak batal ketetapan rakyat)
Perjanjian tersebut menandakan bahwa kehendak umumlah (volonté generale) yang menjadi ketetapan tertinggi dalam memutuskan suatu perkara. Hal ini berarti bahwa esensi ruang publik politis yaitu demokrasi sebagai pemerintahan rakyat, telah terumuskan dan tercermin dalam Perjanjian Tomanurung dengan Pemimpin Kaum tersebut. Perjanjian ini merupakan suatu bentuk Du Contract Social (kontrak sosial) antara penguasa dan rakyat terhadap proses penyelenggaraan aktifitas politik dan pemerintahan, sebagaimana yang telah dikemukakan oleh filsuf Prancis, Jean-Jacques Rousseau, pada abad ke-18 di Eropa.
Pada salah satu Sastra Paseng yang berbentuk puisi, dikemukakakan nilai-nilai dasar yang menjadi dasar bagi ruang kultural Bugis Makassar[8], yaitu:
Sadda mappabati ada
Ada mappabati gauk
Gauk mappanessa tau
Temmetto nawa-nawa majak
Tellessuk ada-ada belle
Temmakatuna ri padanna tau
Tekkalupa ri apolEngenna
Suara (hati nurani) menjelmakan kata-kata
Kata-kata menjelmakan perbuatan
Perbuatan menjelaskan hakikat manusia
Tidak ada keinginan (maksud) jahat
Tidak ada kata-kata bohong
Tidak dianggap hina sesama manusia
Tidak lupa pada asal penciptaannya/asal muasalnya
Dalam Sastra Paseng lainnya, disebutkan sejumlah nilai utama (kondisi-kondisi) yang juga dijadikan pegangan dalam ruang publik politis tradisional masyarakat Bugis Makassar[9], nilai-nilai utama tersebut adalah:

Upasengko makkatenning ri lima-E akkatenningeng:
  • Mammulanna, riada tongengng-E
  • Madduanna, rilempuk-E
  • Matellunna, rigettengng-E
  • Maeppakna, sipakatau-E
  • Mallimanna, mappasona-E ri dewata seuwa-E
Nigi-nigi makkatenning ri lima-E akkatenning,
Salewangengngi lolangenna
Ri lino lettu ri esso ri monri
Nasehat untuk bersandar pada lima pegangan
  • Pertama, pada kata-kata yang benar (perkataan yang jujur)
  • Kedua, pada perbuatan yang lurus (perbuatan yang tidak curang)
  • Ketiga, pada keteguhan/ketegasan (keteguhan pada keyakinan yang benar)
  • Empat, saling menghargai (sesama manusia)
  • Lima, berserah diri/bertawakkal kepada Sang Pencipta

Barangsiapa yang bersandar pada lima pegangan tersebut,
Maka kelak akan selamat di dunia hingga di hari kemudian (di akhirat)
Di dalam kedua Sastra Paseng tersebut ditemukan lima nilai dasar utama yang disebut sebagai lima akkatenningeng (lima pengangan). Kelima nilai pegangan tersebut merupakan nilai dasar yang sifatnya primer di dalam ruang publik politis tradisional masyarakat Bugis Makassar. Penyelewengan terhadap nilai-nilai tersebut mengakibatkan seseorang dianggap kehilangan nilai dasar kemanusiaannya atau terdegradasi, turun martabatnya menjadi binatang (olok-kolo’).

Kelima nilai dasar yang primer tersebut akan diuraikan satu persatu, dan kemudian akan dihubungkan dengan kondisi-kondisi ruang publik (politik) ideal yang ada dalam konsepsi tudang sipulung yang dilandasi nilai nilai dalam sistem nilai adat normatif masyarakat Bugis Makassar.

Pertama, nilai dasar ada tongeng (perkataan jujur). Nilai dasar ini mencerminkan kondisi pertama yang ada dalam suatu ruang publik (tradisional) harus berlandaskan pada nilai-nilai kejujuran. Misalnya, peserta yang terlibat dalam suatu tudang sipulung memberikan pandangan pandangannya dalam bentuk informasi atau argumentasi “yang benar (jujur)”. Informasi atau argumentasi yang diberikan bukanlah suatu rekayasa yang dibaliknya tersembunyi kepentingan-kepentingan tertentu, sehingga tudang sipulung yang berlangsung “betul betul” untuk mencari jalan keluar atas suatu permasalahan untuk kepentingan bersama.

Kedua, nilai dasar lempuk (perbuatan lurus/jujur). Nilai dasar ini berhubungan dengan sikap atau perbuatan yang benar (lurus). Dalam pengertian ini, seorang peserta dalam suatu musyawarah tidak memiliki sifat dan prilaku yang curang/tipu muslihat. Dengan demikian, suatu ruang publik harus “steril” dari perbuatan curang, tipu menipu, sehingga kondisi yang tercipta adalah kondisi yang fair dalam suatu tudang sipulung.
Ketiga, nilai dasar getteng (keteguhan/ketegasan). Nilai dasar yang ketiga ini menerangkan bahwa suatu ucapan, sikap, atau perbuatan harus bersandarkan (berpegang teguh) pada keyakinan yang benar/objektif (nilai nilai kebenaran/adat) sehingga kondisi ruang publik yang tercipta benar-benar mencerminkan kondisi objektif (yang sebenarnya), tidak subjektif, tidak memihak, atau berat sebelah.
Keempat, nilai dasar sipakatau (saling memanusiakan/menghargai). Nilai dasar ini memiliki dimensi sosial yang mengindikasikan adanya interaksi yang bersifat egaliter dalam suatu ruang publik. Hal ini menunjukkan hubungan yang saling menghargai dan saling menghormati antar peserta dalam suatu ruang publik, yang mana setiap peserta memiliki kesempatan/akses yang sama untuk mengemukakan pandangan pandangannya tentang suatu permasalahan tanpa ada paksaan/tekanan dari pihak manapun juga.

Kelima, nilai dasar mappesona ri Pawinruk sewua-E (berserah diri kepada Sang Pencipta. Nilai ini berdimensi religius dan transendental yang mempedomani setiap aktivitas budaya politik, sehingga timbul keasadaran akan “pertanggung jawaban” setiap individu kepada Sang Penciptanya dalam setiap aktivitas budaya politiknya. Dengan adanya kesadaran vertikal tersebut, maka komunikasi yang terjadi dalam suatu ruang publik akan selalu bersandarkan pada nilai-nilai kejujuran dan kebenaran.

Jadi, pelaksanaan tudang sipulung sebagai sebuah ruang publik tradisional bagi kehendak rakyat, harus dilandasi oleh kondisi kondisi komunikasi ideal atau nilai nilai lima akkatenningeng (lima pegangan) sebagai sumber nilai normatif tradisional masyarakat Bugis Makassar, dan dihormati oleh semua unsur yang terlibat dalam tudang sipulung agar keputusan yang dihasilkan benar benar mencerminkan kehendak bersama dan bermanfaat bagi semua pihak. Nilai-nilai utama yaitu ada tongeng (perkataan jujur), lempu’ (perbuatan lurus/jujur), getteng (keteguhan pada kebenaran), sipakatau (saling menghargai), mappesona ri Pawinruk seuwa E (berserah diri pada Sang Pencipta) harus menjadi prasyarat bagi sebuah ruang publik (politis) agar proses komunikasi yang berlangsung dapat terjalin secara rasional, fair, kritis, sehat dan demokratis. Hal hal inilah yang dimaksudkan Habermas sebagai ciri ruang publik otentik yang muncul di Eropa pada sekitar abad ke 17, yang ternyata kondisi kondisi ruang publik otentik tersebut ada dan diterapkan dalam kehidupan budaya politik tradisional masyarakat Bugis Makassar, sejak ratusan tahun silam yang dimulai sekitar abad ke-14.

SEJARAH ORANG BUGIS MAKASSAR | FKPA MAROS

Makassar adalah nama mengacu pada kerajaan di Sulawesi Selatan yang selama abad ke-17 adalah yang terbesar setelah bersatu dengan Kerajaan Bone, pada pantai timur Sulawesi Selatan. Ukuran Sulawesi Selatan adalah 100,457 km persegi termasuk pulau Selayar, Tanah Jampea, Kalao, Bonerate, dan Tanakeke. Studi antropologi mengatakan bahwa orang-orang dari Sulawesi Selatan adalah Bugis, meskipun didasarkan pada dialek dapat dikelompokkan lagi ke dalam Bugis itu sendiri, Makassar, Toraja, Mandar, dan Duri. Fakta bahwa orang-orang berbicara kelompok dialek Bugis adalah jumlah terbesar. Orang-orang berbicara dialek Makassar kini penduduk kota Makassar, yang dikenal juga sebagai kota Ujung Pandang, selatan timur ujung selatan Sulawesi dan pulau Selayar.

Dialek Mandar ditemukan di utara pantai barat Sulawesi Selatan pada daerah Majene utara sampai ke Mamuju. Sedangkan dialek nomor Duri sangat kecil tetangga dengan orang-orang Toraja. Karena luas dari Sulawesi Selatan diyakini bahwa selama sejarah budaya Bugis mengalami beberapa perubahan pada beberapa tempat atau dikenal sebagai beberapa transformasi, jadi kita sekarang tahu beberapa jenis kebudayaan dan anak dialek daerah. Meskipun ia adalah orang Bugis judul kita di sini membahas secara umum tentang etnis masih dalam kelompok selatan Sulawesi. Makassar adalah kerajaan berkembang dari kerajaan Bugis di abad ke-17 dan mungkin sebelumnya ketika pengaruh Hindu mencapai wilayah tersebut. Sementara orang Toraja dan budaya akan diperlakukan secara terpisah karena bangsa ini seolah-olah mereka memiliki budaya mereka sendiri dikenal di seluruh dunia. Catatan oleh Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 1969 menyebutkan bahwa jumlah orang diperkirakan 5.643.067.


Studi Linguistik oleh BF Matthes menemukan bahwa kuno Sulawwesi selatan telah menulis tradisi menggunakan tulisan India, di kedua Bugis yang menggunakan bahasa yang disebut Ugi, dan Makassar menggunakan bahasa yang disebut Mangsara. Hal ini diawetkan pada daun lontar atau kertas. Penulisan ini dikenal sebagai aksara-lontara. Aksara adalah bahasa Sansekerta kata untuk alfabet, dan Lontara adalah daun palem. Pada pergantian abad ke-17 abad Islam mulai memasuki Sulawesi Selatan dari Pulau Seram di Ambon. Juga tulisan diubah menjadi Arab yang disebut Huruf Serang (mungkin dari kata "Seram"). Banyak warisan literatur Bugis dapat disebutkan seperti koleksi besar mitos Bugis disebut Galigo Tentu, Paseng disebut etnis, keputusan pemimpin 'disebut Rapang, dan lain-lain. Mulai kedatangan Islam di abad ke-17 dan kedatangan militer VOC Belanda situasi Sulawesi Selatan dikatakan tidak pernah dalam damai. Antara kerajaan yang ada adalah konflik berdarah, dan tertindas militer VOC mereka sangat keras, menyebabkan banyak dari mereka meninggalkan tanah mereka dan tinggal di daerah lain di Indonesia. Hari ini kita dapat menemukan orang-orang Bugis di setiap bagian dari Indonesia yang masih melestarikan tradisi mereka, meski sudah mengikuti Islam.

Di masa lalu pola pemukiman mereka dipusatkan pada tempat suci dengan pohon beringin besar yang disebut "POSSI tana" tertutup oleh antara 10 sampai 200 rumah. Sebuah penyelesaian dipimpin oleh seorang Matoa atau Jannang, atau Lompo, atau Toddo, dibantu oleh 2 orang, Sariang atau Parennung. Sebuah unit dari beberapa pemukiman disebut Wanua adalah Bugis dan Pa'rasangan atau bori di Makassar. Dari sini kita menulis nama sebagai berikut Bugis / Makassar hanya untuk membuat pendek. Kepala Wanua adalah Arung Palili atau Sullewatang / Karaeng. Setelah kemerdekaan Wanua adalah posisi Kecamatan administrasi.

Bentuk rumah Bugis dan makassar memiliki gaya yang sama, kecuali Toraja yang sangat unik yang dibahas pada khusus bagi orang-orang Toraja. Rumah ini dibangun di atas tiang-tiang, ruang atas di bawah atap adalah untuk menempatkan beras, disebut rakkeang / pammakkang, ruang untuk hidup disebut ale bola / balle Bolla, sementara ruang di bawah lantai yang disebut awasao / passiringgang, untuk menempatkan alat-alat pertanian, kandang ayam dan lainnya. Berdasarkan status sosial dapat dibagi menjadi 3 rumah, sao raja / balla atau lompo adalah rumah besar keluarga bangsawan, biasanya memiliki langkah-langkah dengan basis storyed, dan atap dengan 3 tingkat. Sao piti / tanarata adalah rumah kecil tanpa atap, bola / balla umum orang rumah. Untuk membangun rumah seorang ahli tradisi yang disebut Panrita bola membuat ritual untuk memilih tempat di mana rumah akan dibangun. Beberapa kali kerbau kepala dimakamkan sebagai ritual untuk menghindari nasib buruk yang mungkin dihadapi rumah.

Sistem tradisional masyarakat Bugis memperkenalkan strata sosial seperti kelompok orang kerajaan atau mulia disebut Anakarung / Anakaraeng, orang umum orang independen yang disebut dengan maradeka / tu maradeka. Kelompok ketiga adalah ata berarti budak yang diyakini hanya muncul jauh di kemudian hari di Bugis - Makassar masyarakat. Hari judul bangsawan seperti Karaenta, Puatta, Andi dan Daeng masih digunakan tetapi tidak banyak berarti di masyarakat. Hari ini lapisan sosial tidak terlihat lagi berpacu dengan orientasi perubahan kehidupan manusia, seperti halnya pasangan pernikahan yang ideal dari orang-orang yang antara tingkat ketiga dari hubungan keluarga dan jumlah besar biaya doory dan pernikahan, sekarang berubah sudah. Pernikahan antara anak-anak grand saudara / saudari tidak selalu mulus, beberapa kali juga menghadapi keberatan. Jika keberatan berasal dari keluarga wanita kadang-kadang pria menculik wanita dan bulan bersembunyi di tempat tertentu dan mencari perlindungan kepada orang-orang terkemuka, yang sering bisa menggunakan kekuasaannya untuk membuang kemarahan dari keluarga perempuan.

Orang-orang Bugis adalah orang taat kepada tradisi asli mereka meskipun mereka yang sudah tinggal di luar Sulawesi Selatan. Tradisi suci mereka disebut panngaderreng / panngadakkang. Tradisi ini didasarkan pada unsur-unsur yaitu (1) Ade / ADA etika perkawinan,, hubungan kekerabatan generasi, di antara kerabat, dan etika pada politik. (2) Bicara adalah prosedur proses hukum dan penilaian, (3) Rapang dapat dikatakan sebagai sampel, analogi, atau metafora dari peristiwa masa lalu untuk digunakan sebagai refleksi dari kehidupan. (4) Wari, etika klasifikasi pada objek dan masalah-masalah sosial, (5) Sara, organisasi sosial dan aturan Islam.

Kepercayaan Asli dari Bugis seperti yang disebutkan pada Sure 'Galigo adalah dewa Patoto-e memegang nasib manusia, dewa Seuwa-e dewa tunggal, Tuie a' rana keinginan tertinggi. Dengan kedatangan Islam kepercayaan asli telah berubah menjadi syari'ah, terutama dengan upaya intensif Muhammadiyah untuk memurnikan Islam di Sulawesi Selatan. Para pemurnian mungkin untuk menjadikan Islam seperti di Timur Tengah, dan meninggalkan roh tradisional seperti penghormatan kepada tempat tertentu, penghormatan kepada leluhur, sehubungan dengan alam secara umum. Tapi semangat terkenal "siri" masih dijahit di setiap jantung Bugis / Makassar winch bebas dapat diterjemahkan ke dalam martabat diri non negotiable. Beberapa ahli mengatakan ini bukan hanya diri sendiri, tapi kelompok dan dapat sampai pada tindakan fatal seperti pembunuhan.



Orang Bugis terkenal dengan kerajinan mereka membuat kapal kayu phinisi dapat digunakan untuk berlayar di laut dalam. Sebagai produsen kapal kayu mereka juga profesional pada berlayar ke laut apapun, bahkan tercatat bahwa pada begriming Australia dijajah oleh Inggris, hubungan antara Australia Utara dan Indonesia adalah sering sampai pelaut Inggris Indonesia dilarang untuk menelepon di tanah wilayah utara. disadur dari Google Terjemahan Sumber balitouring.com